Jumat, 12 Desember 2008

Khalifah Umar dan Sungai Nil


Kisah ini terjadi tatkala Mesir di taklukkan oleh kaum muslimin. Penduduk Mesir mendatangi Amr bin Ash pada saat masuk salah satu bulan yang dianggap sakral oleh penduduk setempat.

Kemudian orang-orang mesir itu berkata, “wahai gubernur, sesungguhnya Nil ini memiliki kebiasaan dimana dia tiak akan mengalir kecuali dengan tradisi tersebut?” Lantas, Amr bin Ash bertanya, “tradisi apakah itu?”

jika masuk tanggal sebelas bulan ini, kami akan mencari seorang perawan yang cantik nan elok ke rumah orang tuanya. Lalu kami meminta orangtuanya untuk memberikan perawan itu kepada kami dengan suka rela. Kemudian kami hiasi perawan itu dengan baju dan hiasan yang sangat indah. Kemudian, kami mengaraknya menuju sungai nil dan setelah itu kami lemparkan dia”, jawab penduduk.

Amr bin Ash kemudian berkata lagi,”ini tidak mungkin dilakukan di Islam. Karena sesungguhnya Islam menghapus tradisi Jahiliyah.”

Lalu mereka melakukan perintah Amr bin Ash. Ternyata Nil itu kering dan tidak mengalirkan air setetes pun. Hingga banyak penduduk yang ingin melakukan hijrah.

Melihat kondisi tersebut, Amr bin Ash menulis surat kepada Umar bin Khattab, khalifah kaum Muslimin waktu itu. Dalam surat itu, dia menerangkan bahwa penduduk di timpa musibah akibat yang ia katakana. Dia juga menuliskan dalam surat itu bahwa Islam telah menghapus semua tradisi masa lalu.

Kemuian Khalifah Umar membalas surat kepada Amr bin Ash yang di dalamnya ada nota kecil. Dalam surat itu Umar menuliskan: “sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu dalam suratku sebuah nota kecil, maka lemparlah nota kecil itu kedalam sungai Nil.”

Tatkala surat Umar sampai ditangan Amr bin Ash, dia mengambil nota kecil dan membukanya. Ternyata di dalamnya berisi tulisan sebagai berikut: “dari hamba Allah, Amirul Mu’minin, Umar bin Al-Khattab amma ba’du. Jika kau mengalir karena dirimu sendiri maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk menglirkanmu kembali.”

Amr bin Ash kemudian menuju sungai Nil dan melemparkan nota kecil dari Umar ke sungai Nil. Tak lama kemudian, Allah mengalirkan air sungai Nil dengan kadar enam dziro’ dalam satu malam. Dengan terjadinya peristiwa itu, Allah telah menghancurkan tradisi jahiliyah dari penduduk Mesir hingga sekarang.  

Kamis, 07 Agustus 2008

Rumah Masa Depan

Siang itu matahari bersinar cukup garang menyirami pekuburan Pondok Kelapa mengiringi jenazah almarhumah ibunda dari pimpinan perusahaan tempat saya bekerja. Tanah merah yang kering menjadi berdebu diterpa angin yang bertiup kencang. Perlahan-lahan tubuh almarhumah mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Sanak famili yang datang tertunduk haru bahkan ada yang tak tertahankan tangisnya.

Setelah jenazah diletakkan di dalam lubang dan tali pengikat kafan dilepaskan para penggali kubur menutupinya dengan tanah dan di atasnya ditanamkan batu nisan. Itulah akhir episode kehidupan seorang anak manusia yang telah habis masa hidupnya di dunia dan mulai memasuki kehidupannya yang baru di alam kubur.

Terbayang olehku gelapnya alam kubur, Ya Allah sanggupkah tubuh yang penuh dengan debu dosa dan maksiat ini menghadapi kepengapan, kesempitan dan kesunyiannya? Belum lagi mahluk-mahluk kecil yang siap menjelajahi tubuh ini hingga perlahan-lahan menghancurkannya dan menyisakan tulang belulang.

Tak ada lagi gemerlap kehidupan dunia, mobil mewah yang kita miliki tidak ikut masuk ke dalam lubang ukuran 2 x 1 m di kedalaman 2 m, deposito dollar, saham perusahaan, tanah 1000 hektar, istri yang cantik, jabatan semuanya kita tinggalkan.

Ya Allah jadikanlah kubur sebagai pengingat diri dari berbuat zhalim dan melanggar perintah-Mu.

Kubur adalah rumah masa depan kita, rumah yang seharusnya kita persiapkan jauh-jauh hari. Kalau untuk rumah di dunia saja kita sibuk ambil kredit, mati-matian menabung bahkan tidak jarang ada yang bela-belain korupsi hanya untuk mendapatkan rumah. Lantas kenapa untuk peristirahatan yang abadi kita malah lalai bahkan lupa?

Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini menjadi usia yang penuh manfaat dan keberkahan sehingga menjadi penolongku nanti.

Ingatkah waktu hendak membangun rumah kita sibuk merancang arsitektur, pondasi, bangunan fisik dan interiornya? Begitu cermatnya kita hingga tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkannya. Lalu bagaimana dengan rumah masa depan kita? Sudahkah kita merancang arsitektur ibadah kepada Allah, lalu kita gali diri ini dengan ilmu untuk memperkokoh pondasi keimanan dan ketakwaan, kemudian kita bangun tiang-tiangnya dengan shalat khusyu' nan ikhlas disertai dinding amal sholeh serta kebaikan, dan tak lupa menutup atap rumah kita dengan infak di jalan Allah.

Ya Allah, seandainya kau cabut nyawaku saat ini juga jadikanlah sebagai akhir yang baik dan mudahkanlah.